Sunday, June 24, 2012

Evolusi Badak


 MENGENAL  EVOLUSI BADAK (Rhinoceros)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah evolusi yang diampu oleh
Pak Putut dan Bu Eta





 Di susun oleh:
Mahbub Masduqi     4411410021
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012


Badak adalah perkembangan evolusi dari kuda dan tapir. Sekitar 50 juta tahun yang lalu, badak primitif (Superfamily Rhinocerotoidea) pertama muncul hanya seukuran anjing besar. Namanya Hyrachius. Rhinoceros (badak) berasal dari bahasa Yunani, yaitu Rhino/Rhinus yang artinya hidung (nose) dan Ceras yang berarti cula atau tanduk (horn).
Di antara hewan mamalia, badak  dan tapir adalah yang terdekat kekerabatannya. Pada awal masa Eocene, terdapat hewanberukuran kecil yang disebut Homogalax,
sebagai moyang badak dan tapir, dan merupakan keturunan langsung dari jenis awal kuda,
yaitu Hyracotherium, atau Eohippus,atau sekarang disebut Protorohippus.

Sejak jenis badak pertama ada 50 juta tahun yang lalu, keluarga badak sebenarnya menjadi jenis mamalia yang penyebarannya paling luas di muka bumi ini. Hyrachyus ditemukan di Eropa sampai Kanada. Hyracodon ada di Amerika Utara. Paraceratherium, adalah mamalia darat terbesar yang pernah hidup di planet ini karena tingginya mencapai 6 meter dengan berat sampai 20.000 kg (sama dengan berat empat ekor gajah jantan), ditemukan juga di Amerika Utara dan sebagian Asia.
Sedangkan Coelodonia yang hidup pada dikenal juga sebagai Woolly Rhinoceros, merupakan kerabat primitif terakhir dan sekaligus terdekat dengan Badak Sumatra yang masih hidup saat ini  ditemukan spesimen utuhnya membeku di Siberia.
Dinosaurus yang penampilan fisik tubuhnya mirip dengan badak sekarang namanya Triceratops yang hidup pada jaman Paleocene yaitu jaman diatas 60 juta tahun Sebelum Masehi (Sebelum Masehi disingkat SM).
Gambar 1. Badak Hitam
Di dalam ilmu pengetahuan, kehidupan makhluk di dunia ini dibagi atas masa-masa waktu kehidupan yang di sebut jaman, yang terdiri dari :
1.      Jaman Pleocene, yang berakhir pada 60juta tahun SM
2.      Jaman Eocene, yang berkisar antara 40-50 juta tahun SM
3.      Jaman Oligocene, yang berkisar pada 30 juta tahun SM
4.      Jaman Miocene, yang berkisar antara10-20 juta tahun SM
5.      Jaman Fliocene, yang berkisar antara 2-10 juta tahun SM
6.      Jaman Pleitocene, yang berkisar pada 2 juta tahun SM, dan
7.      Jaman Molocene, yaitu jaman pada kehidupan kita sekarang ini.
Badak tidak termasuk kedalam dinosaurus karena semua jenis dinosaurus telah punah pada waktu 65 juta tahun SM, yakni pada jaman Paleocene. Ketika itu terjadi bencana kehancuran di seluruh tempat hidup dinosurus akibat tabrakan meteor besar dengan bumi yang menimbulkan goncangan yang kuat dan kebakaran besar hampir di seluruh permukaan bumi.
Meteor adalah benda-benda padat yang beredar diantariksa. Pada saat melintas dekat bumi dapat ditarik oleh gaya tarik bumi sehingga meteor tersebut memasuki atmosfir dan jatuh ke permukaan bumi. Sebenarnya, semua meteor atau benda lain yang memasuki atmosfir bumi sebelum sampai ke permukaan bumi akan terbakar oleh adanya gesekan dengan partikel-partikel udara di atmosfir bumi. Sehingga umumnya sudah habis terbakar sebelum sampai permukaan bumi.
Namun pada jaman Paleocene tersebut, ukuran meteor sangat besar sehingga menghantam permukaan bumi dalam keadaan masih berbentuk benda padat yang menghantam bumi dengan menimbulkan bencana di atas. Salah satu bukti contoh akibat hantaman meteor dalam keadaan masih berupa benda padat dan berukuran besar adalah kawah sedalam 50 meter dengan luas lingkaran selebar kurang lebih 5 km ditemukan di negara Rusia dekat kutub utara. Dengan demikian pada akhir jaman Paleocene yaitu 60 juta tahun SM dan jaman Peralihannya, yaitu antara 60-50 juta tahun SM semua jenis dinosaurus sudah punah dari muka bumi.
Badak Purba merupakan satwa/hewan hasil evolusi antara jenis Kuda dan Tapir Purba. Yang dimaksud dengan evolusi adalah perubahan bentuk rupa dan sifat sesuatu jenis mahluk di alam sebagai upaya adaptasi (penyesuaian diri) dengan perubahan kondisi dan situasi tempat hidupnya. Ketiga jenis binatang purba tersebut merupakan keluarga satwa berkuku ganjil (Perissodactylae) dan Famili Perissodactylae tercatat telah hidup sekitar 54 juta tahun yang lalu. Keturunan keluarga Perissodactylae ini sekarang memiliki tiga famili yaitu Equidae (kuda), Tapiridae (Tapir) dan Rhinocerotidae (badak). Ketiga famili ini bukan keluarga besar, dimana Equidae hanya memiliki 7 (tujuh) jenis kuda, Tapiridae memiliki 4 (empat) jenis tapir dan Rhinocerotidae memiliki 5 (lima) jenis badak. Dua diantara dari kelima jenis badak tersebut hidup di Indonesia, yaitu Badak Sumatera dan Badak Jawa.
1. Hyrachius Primitive rhinoceros
Pada awal Jaman Eocene muncul badak purba pertama yang disebut Hyrachius atau sebutan ilmiahnya Primitive rhinoceros. Hyrachius besarnya hanya seukuran anjing besar dan bentuk-rupanya mirip kuda namun ujung hidungnya mirip tapir dan ada tonjolan kecil diatasnya.
Penyebutan nama Rhino ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti hidung, sedangkan ceros berarti cula dan horn yang berarti tanduk. Sejak jaman Eocene ini, keluarga badak menjadi hewan mamalia yang paling luas penyebarannya di muka bumi ini.
Gambar 2. Hyrachius.
2. Teleoceros Short-legged rhinoceros.
Pada peralihan jaman Eocene ke jaman Oligocene, yaitu antara 30-40 juta tahun SM, muncul badak purba kedua yang bernama Teleoceros atau disebut juga Short-legged rhinoceros. Teleoceros memiliki kaki yang pendek dan gempal, berbadan besar dan bercula lebih jelas, sehingga mirip badak jaman sekarang.
Gambar 3. Teleoceros.

3. Paraceratherium Giant-giraffe rhinoceros.
Pada jaman Oligocene yaitu 30 juta tahun SM, muncul badak purba ketiga yang bernama Paraceratherium atau disebut juga Giant-giraffe rhinoceros.
Jenis badak purba ini memiliki kepala mirip tapir tetapi memiliki badan dan ekor seperti kuda. Paraceratherium ini merupakan jenis mamalia darat terbesar yang pernah hidup di planet bumi. Tingginya mencapai 6 (enam) meter dan memiliki berat badan mencapai 20.000 kg (20 ton) setara dengan berat 4 (empat) ekor gajah terbesar Afrika.
Gambar 4. Paraceratherium.
Fosil badak ini ditemukan di Amerika Utara. Yang dimaksud dengan fosil adalah bagian-bagian tulang kerangka suatu jenis hewan yang membatu dan biasanya terkubur dalam tanah selama berjuta tahun. Pada jaman Miocene yaitu antara 10-20 juta tahun SM, munculah secara berturut-turut 7 (tujuh) jenis badak purba berikutnya. Awal jaman Miocene muncul 2 (dua) jenis badak purba, yaitu :
4. Juxia (Slender rhinoceros).
Pertama muncul badak purba yang bernama Juxia atau disebut juga Slender rhinoceros, yang memiliki bentuk tubuh mirip kuda, tidak memiliki cula dengan besar tubuh seperti gajah. Badak ini merupakan badak purba yang muncul keempat.
Gambar 5. Juxia.

5. Meninatherium (Longnosed rhinoceros).
Berikutnya muncul badak purba yang kelima yang bernama Meninatherium atau disebut juga Longnosed rhinoceros. Jenis badak ini mempunyai hidung yang panjang (makanya disebut longnosed), bercula satu dan memiliki ukuran badan seperti Badak Putih Afrika sekarang.
Gambar 6. Meninatherium.
    
Pertengahan jaman Miocene, muncul 3 (tiga) jenis badak purba berikutnya, yaitu:
6. Hyracodon (Running rhinoceros).
Pertama muncul badak purba yang bernama Hyracodon atau disebut juga Running rhinoceros sebagai badak purba ke enam muncul di muka bumi. Hyracodon ini memiliki bentuk tubuh mirip kuda dan berukuran sebesar keledai.
Hyracodon merupakan badak purba yang memiliki kemampuan untuk berlari tercepat diantara semua jenis badak yang pernah ada diplanet bumi, sehingga badak ini digelari pelari cepat (Running rhinoceros).
Gambar 7. Hyracodon.

7.      Metamynodon (Marsh rhinoceros).
Kedua muncul badak purba yang bernama Metamynodon atau disebut juga Marsh rhinoceros sebagai badak purba ke tujuh muncul di muka bumi. Metamynodon ini memiliki bentuk tubuh mirip tapir dan berukuran sedikit lebih besar dari Badak Putih Afrika. Badak purba ini memiliki cula pendek besar dan berujung tumpul. Gambar 8. Metamynodon.
Pada akhir jaman Miocene, muncul 2 (dua) jenis badak purba berikutnya, yaitu:
8. Elasmotherium (Bg-horn rhinoceros).
Pertama muncul badak purba yang bernama Elasmotherium atau disebut juga Big-horn rhinoceros sebagai badak purba ke delapan muncul di muka bumi.
Elamostherium ini berukuran tubuh sebesar gajah, memiliki tanduk sangat besar (bighorn), panjang (lebih dari 1 meter) dan berbentuk kerucut.
Gambar 9. Elasmotherium. i
9. Coelodonia (Wolly rhinoceros).
Berikutnya muncul badak purba yang bernama Coelodonia atau disebut juga Wolly rhinoceros sebagai badak purba ke sembilan dan merupakan badak purba yang terakhir muncul di muka bumi. Jenis badak purba ini merupakan kerabat dekat dari Badak Sumatera (karena berambut) yang hidup pada jaman sekarang.  Bandingkan dengan badak Sumatera pada gambar 11 dibawahnya. Spesimen utuh Coelodonia ini diketemukan di Siberia (Negara Rusia). Yang dimaksud dengan specimen adalah seluruh bagian tubuh hewan yang membatu.
Gambar 10. Coedodonia
Badak-badak purba tersebut sekarang sudah punah atau tidak ada lagi. Kepunahan badak-badak purba tersebut terjadi pada waktu 4 juta tahun yang lalu. Pada waktu itu terjadi terjadi perubahan iklim yang sangat ekstrim, yaitu terjadinya keadaan panas yang luar biasa dan mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di kutub utara dan kutub selatan bumi kita. Akibatnya adalah terjadi kenaikan permukaan air laut yang luarbiasa tingginya dan merendam sebagian besar permukaan bumi. Celakanya justru seluruh tempat hidup (tempat hidup disebut juga habitat) badak purba terendam, sehingga selain sebagian besar mati
Gambar 11. Badak Sumatera
karena tenggelam dalam air, bagi yang sebagian kecil menyelamatkan diri ketempat yang lebih tinggipun mati kepanasan dan kelaparan.
Kelima jenis badak yang masih hidup pada saat ini adalah jenis-jenis badak yang telah ber evolusi sehingga mampu beradaptasi terhadap perubahan alam tersebut. Kelimanya adalah Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Badak India (Rhinoceros unicornis), Badak Hitam (Diceros bicornis) dan Badak Putih (Ceratotherium simum). Dari kelima jenis badak yang ada tersebut, 3 (tiga) jenis ada di Asia dan 2 (dua) jenis lainnya ada di Afrika. Indonesia merupakan Negara yang memiliki jenis badak yang terkaya, yaitu 2 (dua) jenis dari 5 (lima) jenis yang ada dan terlengkap yaitu memiliki badak bercula satu (Badak Jawa) dan bercula dua (Badak Sumatera). Kenapa demikian?, karena Badak India yang ada di Negara India, Nepal dan Negara sekitarnya hanya satu jenis dan bercula satu. Sedangkan Benua Afrika yang memiliki 2 (dua) jenis badak yaitu Badak Hitam dan Badak Putih, keduanya merupakan badak bercula dua.
Badak-badak ini sebenarnya selain merupakan satwa yang bersifat soliter atau senang hidup mengembara menyendiri dan pendiam, juga bersifat peramah dan bersahabat terhadap sesama hewan lainnya. Hal ini terbukti badak sering nampak berdekatan dengan Rusa, Zebra dan Jerapah di padang savanna Afrika. Perseteruan atau sikap agresif dan menyerang hanya ditujukan terhadap hewan atau makhluk lain yang dianggap akan menimbulkan ancaman terhadap keselamatannya seperti Gajah atau Singa dan sejenisnya. Demikian pula apabila bertemu satwa yang dipandang akan merebut tempat berkubang kesukaannya seperti Banteng dan Babi Hutan dan bila perseteruan ini terjadi, biasanya akan diakhiri dengan kematian disalah satu pihak. Sedangkan terhadap manusia badak memandang sebagai makhluk yang memberi ancaman bagi dirinya, terutama akibat sejarah yang panjang ulah manusia yang selalu memburu dan membunuh badak selama ini. Apabila melalui indra penciumannya yang tajam sempat mencium bau adanya manusia, maka dia memilih untuk segera lari menghindar, namun bila terpergok dan tidak sempat lari maka dia akan memilih diam mematung tanpa bergerak tetapi siaga menyerang atau malah segera dengan garang akan menyerang setiap gerakan manusia yang dihadapannya.
Demikian pula dalam penelitian untuk kepentingan dunia ilmu pengetahuan terhadap badak pada masalalu, dilakukan dengan memburu dan membunuh badak-badak yang ditelitinya menambah rasa permusuhan sang badak terhadap manusia. Pada masa sekarang ini dengan mendirikan menara-menara pengintai yang tinggi disekitar lokasi yang mungkin ditemukannya badak dan dengan bantuan teropong serta kamera foto yang n lensanya dapat melihat dalam jarak yang jauh namun tetap bisa melihat maupun menghasilkan gambar yang jelas dan tajam, maka penelitian terhadap badak sudah memberikan nuansa bersahabat kepada badak. Walaupun tetap sulit karena badak mampu mendeteksi dari jarak yang jauh melalui indra penciumannya yang mampu mencium bau manusia atau hewan lainnya dari jarak sampai 2 km.

DAFTAR PUSTAKA
Adi, Marcellus dkk., 2007. Konservasi Badak. Dalam : Power point presentasi bagi peserta Diklat Manajemen KSDA tingkat lanjutan, Agustus 2007. Suaka Rhino Sumatera - Taman Nasional Way Kambas, Lampung. 55 hal.
.Hoogerwerf, A., 1970. Ujung Kulon. It’s the land of the last Javan Rhinoceros. J. Breiden, Leinden. 252 hal.
Martin, E.B., and Martin, C.B., 1982. Run Rhino Run. Chatto & Windus, London.
Martin, E.B., 1983. Rhino Exploitation; The Trade in Rhino Product in India, Indonesia, Malaysia, Burma, Japan & South Korea, World Wildlife Found – Hongkong,
Prachmatika & Dewi, Andi R., 1999. Badak (Rhinoceros). Media Informasi Hutan dan Kehutanan Vol. 15, No. 3, Agustus 1999. 6 hal.


Friday, June 1, 2012

Formasi Batuan di Sangiran


Situs Sangiran Sragen Jawa Tengah

          A.   Tujuan
1.               Untuk memenuhi tugas kuliah kerja lapangan mata kuliah Geologi.
2.               Untuk mengetahui lokasi situs Sangiran di Sragen Jawa tengah.
3.               Untuk mengetahui karakteristik batuan yang meliputi Geologi, Paleontologi, dan biologi serta cirri-ciri spesifik dari batuan tersebut.

B.   Landasan Teori
Sangiran adalah sebuah desa di kelurahana Krikilan Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen,  Provinsi Jawa Tengah. Desa tersebut dikenal sebagai situs prasejarah yang kaya dengan temuan fosil manusia dan hewan purba. Selain itu di Sangiran juga banyak ditemukan alat-alat batu peninggalan manusia prasejarah yang dulu pernah hidup disana.
Situs Sangiran terletak kira-kira 15 km di sebelah utara kota Surakarta. Situs ini luas arealnya kira-kira 6x15 km. sebagai suatu situs sebagian arealnya terletak di wilayah kabupaten sragen, sebagian lagi terletak di wilayah kabupaten Karanganyar.
Situs ini pernah diteliti oleh berbagai ahli dengan latar belakang yang berbeda. Disiplin Paleoantropologi dan Paleontologi memusatkan penelitian pada temuan fosil-fosilnya, disiplin geologi pada struktur dan stratigrafinya.